Gerimis tipis yang membasahi kawasan Cibubur sore itu tak menyurutkan kehangatan khas persaudaraan Gerakan Pramuka. Di salah satu sudut ruangan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Nasional (Pusdiklatnas), sebuah perbincangan penting tengah berlangsung. Kak Aris dan Kak Adi, dari Satuan Komunitas Pramuka Sekolah Islam Terpadu (SAKO SIT), duduk santai bersama dengan Kak Layen, Wakil Kepala Pusdiklatnas (Wakapusdiklatnas) Gerakan Pramuka. Pertemuan mereka bukan sekedar pertemuan dalam bingkai institusi namun silaturahim hangat kawan lama, apalagi kak Layen dengan kak Adi dahulu satu almamater di STM.
Obrolan sore itu membawa satu tema khusus, yaitu
berkonsultasi mengenai rencana partisipasi SAKO SIT dalam ajang bergengsi
dunia: Muslim Scout Fellowship (MSF) International Jamboree 2026.
Sosok Kak Layen: Guru dengan Jam Terbang Internasional
Bagi Kak Aris dan Kak Adi, tidak ada sosok yang lebih tepat
untuk diajak bertukar pikiran selain Kak Layen. Selain sebagai kawan lama di Gerakan
Pramuka, kapasitas beliau sebagai tokoh Pramuka yang telah malang melintang di
berbagai perkemahan luar negeri menjadikannya rujukan utama. Pengalaman panjang
Kak Layen di kancah internasional menjadi fondasi yang sangat dibutuhkan oleh
SAKO SIT untuk memastikan kesiapan kontingen, baik dari segi mental, fisik,
maupun administratif.
Suasana pertemuan berlangsung dalam balutan obrolan yang serius
tapi santai. Ditemani sejuknya udara sisa hujan dan aroma petrikor dari
luar jendela Pusdiklatnas, diskusi mengalir begitu cair. Kak Layen membagikan
banyak insight strategis terkait dinamika perkemahan lintas negara,
tantangan budaya yang mungkin dihadapi peserta didik, hingga tata krama
pergaulan Pramuka global. Setiap wejangan tersebut disimak dan dicatat dengan
saksama oleh Kak Aris dan Kak Adi sebagai bekal berharga.
Panggilan Lintas Negara di Tengah Gerimis
Di tengah asyiknya menyusun strategi dan langkah persiapan,
muncul satu kekhawatiran terkait tenggat waktu pendaftaran. Mengingat kalender
kegiatan yang terus berjalan, apakah SAKO SIT masih memiliki cukup waktu untuk
mendaftarkan kontingennya?
Menanggapi hal ini, Kak Layen menunjukkan kelasnya sebagai
tokoh dengan jejaring internasional yang kuat. Tanpa membuang waktu, beliau
menyempatkan diri untuk langsung mengangkat telepon genggamnya dan menghubungi Brother
Hisyam, salah satu narahubung dalam kepanitiaan MSF di Inggris.
Percakapan dalam Bahasa Inggris di ujung telepon sore itu
berlangsung hangat dan akrab. Dari komunikasi langsung tersebut, Kak Layen
berhasil mendapatkan kepastian yang sangat dinanti.
"Masih aman, Kak! Brother Hisyam baru saja
mengonfirmasi bahwa pintu pendaftaran untuk MSF International Jamboree 2026
masih terbuka. SAKO SIT masih punya waktu dan kesempatan untuk mendaftarkan
diri," terang Kak Layen seusai menutup teleponnya.
Menyongsong 2026 dengan Mantap
Kabar baik dari ujung telepon itu seketika membuahkan senyum
lega di wajah Kak Aris dan Kak Adi. Beban kekhawatiran sirna, berganti dengan
semangat yang berlipat ganda untuk segera mematangkan persiapan teknis dan
administratif kontingen.
Gerimis sore di Pusdiklatnas Cibubur hari itu seolah menjadi
saksi bisu awal mula sebuah langkah besar. Pertemuan tersebut bukan sekadar
forum konsultasi biasa, melainkan sebuah sinergi kuat untuk mengibarkan tunas
kelapa dan membawa nama baik Pramuka Indonesia, khususnya Pramuka SIT, di
pentas dunia.
Kini, kompas telah ditetapkan. Persiapan menuju Muslim
Scout Fellowship International Jamboree 2026 semakin mantap, terarah, dan
siap untuk diwujudkan.


Posting Komentar